Ketika Anak Metropolitan Menikmati Local Wisdom Desa Pamriyan

Share Berita Ini!

Reviens Purworejo – Pemandangan kontras namun terasa harmonis dan terlihat di rumah-rumah penduduk, anak-anak muda berkulit putih bersih bercakap-cakap dengan warga. Akrab, familar dan penuh kekeluargaan menyatu layaknya dalam kehidupan di desa. Sebanyak 159 Siswa dan 16 Guru SMPK 2 Penabur Jakarta menggelar program “Live In” di Desa Pamriyan, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, selama 3 hari, dimulaih pada Hari Jum’at, 27 September sampai 01 Oktober 2019.

 

Pemerintah Desa bersama warga Desa Pamriyan menyambut dengan penuh suka cita dan tangan terbuka atas kedatangan rombongan Siswa siswi SMPK 2 PenaburJakarta.

 

Program “Live In” merupakan kegiatan tahunan dari salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) favorit di Jakarta ini. Selain kegiatan tahunan, Live In ini akan menjadi pelajaran berharga bagi siswa-siswi yang mengikutinya, mengukir kenangan dan melatih kemandirian serta hidup nyata dalam keberagaman.

 

 

“Tahun lalu kami sudah menggelar program tahunan ini di beberapa tempat yang memang alamnya masih sejuk asri seperti pedesaan di Jawa Tengah, diantaranya, Parakan (Kabupaten Temanggung) dan Karangnongko (Klaten)!” kata Vita, salah satu Guru Pengampu kepada Reviens.

 

Tahun ini dengan beberapa pertimbangan, selain alamnya yang memang masih asri, Desa Pamriyan dipilih sebagai tempat “Live In” memang menyimpan potensi nyata di sana. Local wisdom (keramahan warga lokal) dan budaya yang masih terjaga, potensi budi daya Kopi lokal dan Gemitri disuport spirit warga serta adanya Peraturan Desa (Perdes) yang ramah lingkungan, segar dan beningnya air sungai, menjadi daya tarik tersendiri.

 

Sekitar 54 rumah warga dijadikan Homestay bagi ratusan anak-anak metropolitan. Di rumah-rumah warga yang sederhana ini mereka tinggal selama beberapa hari, tidur, memasak, bercengkarama dan belajar hidup secara nyata dalam keberagaman.

 

Kepala Desa Pamriyan, Budi Susilo yang akrab di panggil Uncle B oleh anak-anak Metropolitan ini, atas nama pemerintah desa menyatakan program “Live In” sangat baik buat anak-anak SMPK 2 Penabur Jakarta mengenal secara langsung kehidupan, kultur dan alam desa yang ada di Indonesia.

 

 

“Suatu saat nanti setelah mereka mengukir kenangan di sini, salah satu atau beberapa dari mereka menduduki posisi penting di negara ini, akan kembali lagi ke sini menebar inspirasi dan virus positif buat warga Desa Pamriyan!” kata Uncle B optimis.

 

Di desa paling ujung arah Utara di Kecamatan Pituruh ini, siswa siswi SMPK 2 Penabur Jakarta terlihat sangat menikmati Program Live In. “Saya suka melihat anak-anak bisa tertawa dan riang, tak ada yang sedih tinggal di rumah saya!” kata Bu Suparni (50th) warga Dusun Ngabean – Desa Pamriyan kepada Reviens. Di rumahnya tinggal Naomi (14th), Paulina (14th) dan Nanda (14th) yang langsung akrab menganggapnya ibu. “Kami masak bareng mengiris bawang, cabe, mengoreng telur dan tempe, juga memasak sayur Sawi atau Bayam, pokoknya asyik dan enak makanan ibu di sini!” kata Naomi meyakinan.

 

Selama tinggal di Pamriyan, mereka juga melakukan explorasi di beberapa dusun, diantaranya di Dusun Jero Tengah, belajar mengolah Kopi lokal Pamriyan “Petik Mera”, di Dusun Ngabean mempelajari proses pembuatan Ayam Panggang, dilanjutkan berjalan kaki menuju Gardu Pandang, salah satu puncak tertinggi di Desa Pamriyan lalu di Dusun Belet, mereka belajar merangkai souvenir gelang dari Biji Jenitri dan di Jero Tengah acara paling mengasyka yakni aksi menagkap ikan yang ditebar di sungai.

 

 

“Seharian sepertinya tak cukup untuk bermain dan belajar bareng bersuka cita main air di sungai yang airnya masih segar dan bening!” kata Paulina girang.
Aneka kesenian lokal pun digelar di depan anak-anak Metropolitan yang penuh rasa kagum dan penasaran menyaksikan Tari Ndolalak, Wayang Kentrung, Jarang Kepang, Cing Po Ling dan Sholawatan. Bahkan mereka berkolaborasi menari bareng anak-anak SD setempat dengan Tarian Soroting Lintang dengan Dress Code Merah menyala terlihat sangat padu dan artistik.

 

“Harapan kami dengan selepas megikuti Program Live In, semakin terinternalisasikannya nilai – nilai terbaik dan positif, sadar betapa besarnya berkat Tuhan atas diri pribadi, kebersamaan sebagai calon alumni P2 tahun 2020 dan kemandirian maupun mengenal kehidupan dalam keberagaman yang nyata!” kata Vita salah satu guru SMPK 2 Penabur Jakarta.

 

“Sayang sekali besok harus berpisah dengan ibu (Ibu Asuh) yang sudah akrab, mengejari kami masak sayur, hidup dalam kesederhanaan namun selalu bahagia, saya akan selalu ingat pengalaman dan kenangan ini sampai kapanpun!” kata Angel yang begitu terkesan dengan keramahan lokal Pamiyan. (agam)

Post Author: Agam

Merupakan salah satu Reporter REVIENSMEDIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *