Gerakan Tabir Malam: Pembahasan Revormasi Agraria

Share Berita Ini!

Reviens Purworejo – Demi terwujudnya iklim sehat para akademisi, sejumlah mahasiswa magister hukum, Universitas Islam Indonesia membentuk Gerakan Tabir Malam, kamis (23/5/2019) di Kafe Silol Yogyakarta,

Agenda pertama adalah soft opening terbentuknya ruang diskusi ini sebagai perwujudan iklim sehat para akademisi. Kali ini tema yang akan di angkat soal “REFORMA AGRARIA” dengan pemantik Muhammad Yunus, Mahasiswa Pascasarjana hokum UII dengan dipandu moderator Ady Putra Cesario (Lawyer Kantor Hukum K.A.S dan Rekans).

“Saat ini konflik agraria di Indonesia sudah masuk pada taraf kritis, maka dari itu kami berusaha membangun pemahaman dan kesadaran kita soal kepentingan agraria di Indonesia diantaranya, mengenai kebijakan dan peraturan agraria di Indonesia, mengenai kepemilikan agar tidak disalah gunakan oleh para pemangku kepentingan dan lain-lain guna mewujudkan land reform yang dicita-citakan”, ujar Muhammad Yunus.

Dalam diskusi tersebut juga mengundang beberapa orang yang dirasa mampu memberikan sumbangsih pemikiran atas problem ini. Salah satunya dihadiri IMAMAH UII (Ikatan Mahasiswa magister hukum Universitas Islam Indonesia), Aulia Dina Shafira, S.H selaku sekretaris IMAMAH UII menyimpulkan bahwasanya, bukan UU pokok agraria yang bermasalah tapi cara pengimplentasiannya, UU agraria sudah sesuai dengan pasal 33 UUD 1945 dan yang cantohnya berasaskan pancasila, dan yang kurang bagus juga undang-undang yang berhubungan dengan agraria, baik yang berhubungan dengan ekonomi contohnya undang-undang Penanaman modal yang pasal-pasalnya banyak bertentangan dengan UU pokok agrarian.

“Pekerjaan rumah bagi kami para anak bangsa untuk menjadikan Negara kita Negara yang benar-benar mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyat dan bukan sebaliknya, karena agenda pembaruan agraria adalah agenda yang besar dan berat serta rumit maka semua pihak, para intelektual, birokrat, legislatif, aktivis LSM dituntut untuk memiliki dasar pengetahuan ilmiah yang memadai, tanpa ini yang terjadi adalah kesimpangsiuran, dan terbangunnya kesadaran masyarakat, tanpa kesadaran masyarakat pelaksanaan pembaruan dapat menimbulkan gejolak”, tambah Yunus

Maka dari itu, kami berharap iklim akademisi pada ruang lingkup tersebut dapat menjadi chek and balance terhadap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Post Author: admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *