D’Laowra Kembali Berbagi Takjil di Bulan Ramadhan

Share Berita Ini!

Reviens Purworejo – Sore itu Ria Saleho (40th) berdandan lebih rapih beda dengan hari-hari biasanya. Begitu pula dengan Jeni (35th), malah terlihat feminin dengan jilbab warna Putih dan baju panjang Hitam Putih. Sekitar 500 Coktail ditata dalam kardus yang sudah siap dikemas rapi ditaruh di atas mobil pick up bak terbuka. Jeni dan Ria Saleho bersama Raysa, Olivia, Rani, Kartika, Erika, sekitar pukul 16.00 WIB, Sabtu (16/5) yang tergabung dalam Grup Seni Ndolalak D’Laowra berkumpul di halaman rumah Dinas Wakil Bupati Purworejo siap menyusuri jalanan di seputar Kutoarjo.

 

“Ini acara tahunan buat D’Laowra untuk selalu berbagi Takjil di Bulan Suci Ramadhan, ya tahun ini sedikit beda ya, di tengah Wabah Covid-19 kita harus selalu ikuti anjuran pemerintah untuk menghindari kerumunan, memakai masker dan selalu menjaga kebersihan tangan!” kata Rani Sumadyaningrum, S. Farm. Apt, putri Wakil Bupati Purworejo.

 

Setelah berfoto bersama Ibu Wakil Bupati Yuli Hastuti, SH di halaman Pendopo Kutoarjo, mereka bergegas naik mobil bak segera menelusuri jalanan. “Saya libur ngamen dulu hari ini khusus untuk persiapan berbagi Takjil, biasanya ya di pasar-pasar ngamen cari nafkah buat sangu Lebaran mas!” kata Jeni kepada Reviens dengan mimik genit.

 

“Tetap selalu di ingat ya masker di pakai, social distancing saat berbagi Takjil di jalanan ya!” kata Bu Wakil Bupati berpesan. Mereka berlompatan dengan gesit dari bak mobil saat sampai perempatan Lampu Merah Kutoarjo. Dengan senyum ramah dan manja puluhan Cocktailpun segera berpindah tangan diulurkan kepada para pejalan kaki, tukang parkir sepanjang jalan MT. Haryono lurus ke arah Utara. Canda tawa dan keceriaan menyambut para artis D’Laowra sepanjang jalan. Sampai kawasan Pasar Kuroarjo mereka bergerak ke arah Jalan Tanjung Anom dan menyapa siapa saja yang melintas.

 

Di pertigaan Kauman mereka mengulurkan kemasan plastik Cocktail kepada para tukang becak, para tukang angkut barang dan sopir angkot. “Kami hindari lewat jalan yang di situ ada penjual minuman dan makanan Takjil, biar mereka juga laku berjualan!” kata Erika mengingatkan.

 

“Wah maturnuwun banget lo mbak, semoga kalian selalu sehat dan dikaruniai rejeki barokah!” kata Prapto pedagang kaki lima Kutoarjo. Memang banyak yang memandang sebelah mata kaum marginal seperti mereka, namun juga tak sedikit yang berempati sekedar saling bertegur sapa dan bercanda.

“Mereka juga berhak untuk berbuat baik, seperti hari ini berbagi Takjil di Bulan Suci Ramadhan ini!” kata Safrudin warga Desa Kemiri yang sedang ngabuburit bersama keluarga. Bulan Suci Ramadhan menjadi bulan istimewa bagi Umat Islam di seluruh dunia. Semua berlomba lomba mengisi aktifitas di bulan ini dengan antusias termasuk D’Laowra .

 

“Nih Cocktailnya mau gak masss!” kata “wanita” bernama Olivia kepada para pengguna jalan. Grup Kesenian Khas Tari Ndolalak besutan H Kelik Sumrahadi SSos MM (alm. Mantan Bupati Purworejo) ini memang mayoritas terdiri dari kau waria.

 

Doto Sutarto (59th), Sesepuh Seniman asal kawasan Pantai Selatan yang juga menggawangi Kelompok Kesenian Waria ini menyatakan bahwa D’Laowra telah mengangkat sisi positif para waria yang sering termarginalkan dalam masyarakat. “Mereka ini datang dari berbagai profesi, pengamen, tukang becak, kapster salon, petani dan pedagang, yang punya gairah seni tradisional yang harus di uri-uri dan nyatanya sangat menghibur saat pentas di beberapa tempat hajatan!” tambah Doto.

 

Termasuk dalam berbuat baik di Bulan Ramadhan tahu ini, mereka juga ingin berbuat amal kebaikan kepada sesama. Buat Jeni yang nama aslinya Junaedi, momen Bulan suci Ramadhan adalah membagi waktu dalam kesibukannya mencari nafkah sebagai pengamen untuk beribadah seperti umat muslim lainya. “Kami boleh juga kan berbagi Takjil buat masyarakat!” tanyanya retoris. Ndolalak Lanang Ora Wedok Ora atau disingkat D’Laowra menjadi wadah buat mereka mengaktualisasikan diri berkesenian. Kehadiran D’Laowra memang menjadi pembeda kesenian Ndolalak yang biasanya beranggotakan lelaki semua atau wanita semua, yang ini justru para kaum waria. Para pemain D’Laowra, dikumpulkan dari berbagai pelosok di Purworejo, bahkan ada yang tinggal di Kabupaten Kulonprogo dan Yogya.

Jeni dan teman-teman merasa mendapat tempat yang tak dipandang sebelah mata, bahkan dari kegiatan ini mereka bisa mencurahkan berbagai perasaan dan ketermarginalan yang mereka alami. “Kami tetap ingin memberi kontribusi kepada masyarakat terlebih hal yang positif!” Sore itu selepas Adzan Maghrib mereka berbuka bersama di rumah dinas Wakil Bupati Kutoarjo. (agam)

Post Author: Agam

Merupakan salah satu Reporter REVIENSMEDIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *