Ditinggal Cari Nafkah Ke Jakarta, Ayah Cabuli Anak Tiri

Share Berita Ini!

Reviens Purworejo – Ti (33th) warga Kutoarjo Kab. Purworejo tak habis pikir dan masih shocked, menerima kenyataan pahit yang harus dirasakannya. “Saya awalnya cuma bingung suami saya (Srj) kok selalu memohon maaf berulang-ulang saat komunikasi lewat WA!” kata perempuan yang baru saja pulang dari Jakarta ini kepada Reviens, Minggu (21/6).

Rupanya telah terjadi peristiwa memilukan yang terjadi dalam bahtera rumah tangganya. Putrinya bernama Kenikir (13th) tak mau lagi tidur di rumah, malah memilih pindah ke rumah kerabatnya. Dari kecurigaan kerabatnya, muncul jawaban yang mengagetkan, bahwa Kenikir telah dicabuli oleh ayah tirinya, yakni Srj (33th). Kabar ini pun segera sampai di telinga Ti yang saat itu sedang mangadu nasib di Jakarta bekerja sebegai buruh pabrik.

“Saya lantas memutuskan pulang ke desa otomatis saya keluar dari kerja mas, harus mendampingi anak-anak saya, setelah Srj saya laporkan polisi dan kini ditahan di Polsek Kutoarjo!” tambah Ti menyembunyikan amarah dan kesedihannya.

Diceritakan awal oleh Ti saat dirinya bercerai dengan suami pertama, Ti bertemu dengan Srj yang juga teman saat mengebor ilmu di SMP di desa. Ti lantas menikah dengan Srj pada tahun 2013 dan lahirlah buah hati bernama Srengenge yang kini sudah berusia 2 tahun. Ti membawa putri pertamanya yakni buah hati dari suami pertama ke desa tinggal bersama ayah tirinya. Keluarga kecil ini mencoba mandiri dengan memutuskan untuk keluar dari rumah mertua.

“Kami bertekad tinggal di rumah sendiri, dan kami membangun rumah ini, namun prakiraan dana ternyata meleset, genting dan beberapa bahan lainnya sampai rumah berdiri dan kami tinggali ternyata belum lunas terbayar.” tambah Ti. Setiap malam menjelang tidur dari obrolan suami istri ini tercetus untuk salah satu harus mengadu nasib ke Jakarta. Dengan pertimbangan Srj lebih bisa eksis dan kerja sebagai buruh bangunan di desa, akhirnya Ti lah yang memutuskan ke Jakarta. “Kan saya bisa kerja dan kirim uang buat bayar utang dan hidup anak-anak saya mas, tapi jadinya kok seperti ini!”

Srj dilaporkan oleh istrinya sendiri ke Polsek Kutoarjo dan kini mendekam dalam jeruji besi. Dilematis memang apa yang harus ditempuh oleh Ti. Satu sisi perilaku cabul Srj terhadap Kenikir sudah pada batas yang tak bisa ditolerir, di sisi lain, dirinya harus menjaga dan menafkahi dua buah hatinya, padahal kenyataannya searang ini dirinya sudah menyatakan keluar dari kerja. “Di desa saya bisakerja apa mas, bingung banget, sementara saya harus nunggu proses sidang sampai kapan juga belum tahu, anak-anak saya kan juga harus makan dan bayar biaya sekolah!” tambah Ti memelas.

Srj yang harusnya melindungi anak tirinya justru terbujuk rayuan syaithon hingga lupa daratan. Peristiwa yang dialami Bunga ini, terjadi pada suatu hari di akhir bulan Januari 2019 lalu di rumahnya. Pada saat korban sedang tidur di dalam kamarnya, ayah tirinya masuk ke dalam kamar yang hanya ditutupi dengan kain korden. Merasa aksi pertamanya berjalan sukses, perbuatan tersebut diulangi hingga tiga kali.

“Setiap kali akan melakukan perbuatannya tersebut, korban diiming-imingi akan diberi uang Rp 50 ribu oleh pelaku,” jelas Kapolres Purworejo, AKBP Indra Kurniawan Mangunsong, melalui Kapolsek Kutoarjo, AKP Markotib.

“Dari pengakuan tersangka, dia tega mencabuli anak tirinya itu, karena merasa kesepian ditinggal istrinya, yang bekerja di Jakarta. Memang, selama ini korban tinggal dengan ayah tirinya, bersama balita anak hasil perkawinan tersangka dengan ibu korban,” terang Markotib, yang didampingi Kasubbag Humas Iptu Siti Komariah, dan Kanitreskrim, Ipda Tri Atmoko.

Dari kasus ini, polisi menyita sejumlah barang bukti, antara lain, , satu stel pakaian tidur warna putih bergambar beruang, satu kaos lengan pendek warna pink, satu celana pendek warna biru, dan satu stel pakaian tidur warna hitam bintik- bintik putih.

“Tersangka dijerat dengan pasal 82 Jo 76E UURI Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UURI Nomor 23 tahun 2002 tentang PerlindunganAnak, dengan ancaman hukuman minimal 5 tahun, maksimal 15 tahun penjara,” tambah Markotib. (agam)

Post Author: Agam

Merupakan salah satu Reporter REVIENSMEDIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *