Dinas PPKP Purworejo Menjaga Asa Petani Tembakau di Purworejo

Share Berita Ini!

Reviens Purworejo – Tembakau menjadi salah satu komoditas yang menggiurkan dalam perniagaan hasil perkebunan di Purworejo namun sayangnya masih dilirik sebelah mata. Setidaknya itu bisa dilihat dari indikator kuantitas SDM dan potensi lahan garapan yang menurun dari tahun ke tahun.

 

Data statistik yang tadinya potensi lahan garapan seluas 400 Ha turun menjadi 260 Ha. Padahal jika dilihat dari perhitungan besar hasil panen sebagai bahan komparasi Tembakau lebih menghasilkan panen dan keuntungan yang lebih besar dari Padi.

 

Sebagai catatan perbandingan harga 1 Kg Tembakau kering olahan senilai Rp. 100.000,- dalam 1 Hektar lahan mampu menghasilkan angka Rp. 70.000.000,-. Sedangkan untuk hasil dari luas lahan yang sama dengan harga perkilo Padi menghasilkan angka nominal Rp. 24.000.000,-. Di sini Tembakau lebih unggul dari Padi.

 

Sekitar 40 Petani Tembakau yang tergabung dalam Kelompok tani Sri Rejeki dari Desa Semawung Kecamatan Purworejo mengikuti Pembinaan Teknologi Panen dan Pasca Panen Baan Baku Komoditas Tembakau Tahun 2019 di Rumah Bebek Goreng Dargo Purworejo, Rabu (17/6).

 

Kepala Bidang Perkebunan, Arie Sulistyani, S.TP., M.P. Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (Dinas PPKP) Purworejo terus mencoba mendorong para Petani Tembakau yang ada di Purworejo untuk selalu memaksimalkan hasil panennya. “Kami ajak mereka para Petani Tembakau untuk belajar bersama meningkatkan mutu Tembakau dan hasil olahannya untuk menaikkan taraf kesejahteraan mereka juga!”

 

Beberapa dukungan nyata dari Dinas PPKP adalah dalam wujud bantuan alat pengolahan rajangan (Alat rajang) dan Motor Roda Tiga untuk sarana transportasi pendukung.

 

Ketua DPC APTI ( Asosiasi Petani Tembakau Indonesia) Purworejo, Mulyanto menyatakan apresiasinya bahwa pemkab Purworejo masih terus mendukung eksistensi Petani tembakau dan memberikan masukan yang dibutuhkan secara nyata kepada mereka.

 

 

“Peran Dinas PPKP Purworejo sangat bagus memfasilitasi alat mesin, sarana dan prasarana pasca panen juga memberikan masukan berupa informasi prakiraan musim.” Kata Mulyanto kepada Reviens.

 

Anggaran yang ada pun juga dioptimalkan untuk menjaga asa para petani tembakau, diantaranya adalah studi banding ke beberapa tempat seperti Temanggung dan Jawa Timur daerah sentra tembakau unggulan.

 

Masih menurut Mulyanto, kendala yang dihadapi oleh petani tembakau Purworejo saat ini kecuali kekeringan dan Virus Gemini, yakni kebijakan yang belum berpihak kepada petani tembakau, Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang masih minim. “Dinas dan Asosiasi justru mengakses bantuan untuk kelompok tani dari propinsi.”tambah Mulyanto.

 

Harga Tembakau relatif stabil dan menguntungkan selama ini, menurut salah satu petani asal Semawung bernama Bambang (30th), “Dulu tahun 2017 harga perkilo nya bisa Rp. 120.000,- kemudian tahun 2018 saya jual perkilo jadi Rp. 100.000,- langsung ke pengusaha rokok lokalan sini, terbuti masih relatif baik harganya.” Masih ada anggapan bahwa rokok kretek (tanpa filter) mengandung nikotin yang berbahaya buat kesehatan sedikit banyak membuat fluktuasi harga tembakau.

 

“Kami tak terpengaruh perang opini soal itu, rokok tingwe (linting dewe/ melinting sendiri) tetap ada penggemarnya di lokalan sini!” tambahnya sebagai isyarat semangat menanam tembakau. Dan tugas mulia Dinas PPKP Purworejo memang harus terus menjaga asa para petani tembakau di Purworejo.

 

Tembakau lokalan seperti Bendungan, Rajang Probolinggo dan Sayangan Kebumen tetap akan eksis punya pangsa tersendiri bersinergi dengan kesejahteraa petaninya.(agam)

Post Author: Agam

Merupakan salah satu Reporter REVIENSMEDIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *