2 PDP Di Purworejo Dinyatakan Positif Terjangkit Covid-19

Share Berita Ini!

Reviens Purworejo – Berbagai respon warga Purworejo dan netizen menyeruak begitu rilis resmi dari Humas Pemkab Purworejo diluncurkan. Sebagian dari mereka resah menyikapi perkembangan ini. Sementara yang lain bertanya-tanya, bingung apa yang harus dilakukan. “Kok malah dibawa ke rumah sih..bukannya diisolir di RS saja kan lebih jelas alat medis dan perawatannya!” kata Erwan salah satu warga Kutoarjo dalam sebuah grup medsos.

Perkembangan terkini jumlah PDP yang Masyarakat Kabupaten Purworejo yang terkonfirmasi positif Covid-19, bertambah satu lagi. Yang bersangkutan merupakan anak dari orang pertama yang dinyatakan positif Covid-19. Dengan demikian sampai hari ini, ada dua warga Purworejo yang dinyatakan positif Covid-19.

Hal itu dikatakan dr. Darus selaku juru bicara Pemerintah Kabupaten Purworejo dalam penanganan Covid-19, Kamis (09/04/2020).

Menurut dr Darus, warga berjenis kelamin perempuan (21 tahun) tersebut pernah dirawat di RSUD dt Tjitrowardojo sebagai PDP, namun karena kondisinya sudah membaik, maka diperbolehkan untuk isolasi mandiri di rumah. “Sehari berada di rumah, hasil test swab yang bersangkutan keluar, dan hasilnya positif,” katanya.

Menanggapi kekhawatiran masyarakat dr Darus menegaskan bahwa sesuai prosedur yang berlaku, orang yang positif Covid-19 namun tidak ada keluhan, tidak perlu menjalani perawatan di rumah sakit. Namun ia harus tetap melakukan isolasi mandiri, dengan pengawasan dan pemantauan yang ketat. “Saat ini istri terkonfirmasi pertama juga sudah diambil swab-nya, meskipun yang bersangkutan tidak dalam keadaan sakit,” jelasnya.

Pemerintah Daerah telah menginformasikan kepada publik ketika hasil swab telah keluar dan positif. Adapun langkah yang dilaksanakan yakni berkoordinasi dengan RW, Lurah dan Forkopimcam terkait adanya keluarga yang menjalani isolasi mandiri karena positif Covid-19. Melalui koordinasi tersebut diharapkan agar mendapat dukungan dari lingkungan.

Sesuai protokol komunikasi publik penanganan Covid-19 bahwa data dan identitas pasien tidak disebarluaskan ke publik. “Segala kebutuhan keluarga tersebut akan dilayani, sehingga mereka tidak perlu keluar rumah untuk memenuhi kebutuhannya,” katanya.

Sementara itu terkait beredarnya flyer/banner di medsos terkait gerakan berhenti total tiga hari se Indonesia, Kabag Humas dan Protokol Rita Purnama SSTP MM menyatakan bahwa itu merupakan sebuah gerakan yang digagas masyarakat. “Begitu euforianya, sehingga banyak warga masyarakat yang asal crop gambar dan menyebarkannya, seolah itu anjuran pemerintah,” jelasnya.

Menurutnya, ajakan dalam untuk berada di rumah itu memang baik. “Seharusnya tidak hanya selama tiga hari pada tanggal 10-12 April saja, namun sesuai dengan instruksi pemerintah. Selama pandemi Covid-19 ini masih terjadi, dan pemerintah belum mencabut himbauan stay at home, ya mestinya masih berada di rumah saja,” kata Rita kepada Reviens. (agam)

Post Author: Agam

Merupakan salah satu Reporter REVIENSMEDIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *